Ini hanyalah hari seperti biasanya,
saat pagi hadir bersama mentari di ujung timur pandangan mata. Melalui
waktu bersama angin yang menghempaskan semua sesak.
Menyadari
bahwa kita sedang mengharap pada apa yang tak mungkin mampu kita raih
adalah sebuah situasi yang sangat menggelikan. Dan kali ini menjadi
menyedihkan karena di iringi dengan lirik ‘you lose
again…losser…losser’. Menjadi diri sendiri, adalah hal yang sangat tak
bisa masuk dalam nalar dan logikaku. Bagaimana mungkin membiarkan apapun
yang begitu dekat menghilang karenanya. Meski begitu sangat
menyakitkan, setiap memandang paras itu semuanya seakan memanggil
kembali. Mengajakku menjadi berani untuk kembali dipermalukan, menjadi
remuk setelah berusaha bangkit. Terkadang begitu benar membiarkannya
sendiri dalam kebisuan, terkadang begitu menyiksa menahan senyuman.
Mungkinkah semuanya baik saja? Sedangkan aku hancur tak beraturan,
runtuh dengan satu kali sapuan. Kau begitu membekas, ketika kehadiran
yang tak pernah ku harap menjadi pengharapan terakhirku. Menjadi
satu-satunya jalan keluar dari setiap kebuntuanku. Hingga akhirnya aku
menikmati hadirmu sebagai parasit dalam logika dan persektif kehidupan.
Kekonyolan-kekonyolan yang seolah menjadi indah, mengungkap kebenaran
dalam kesalahan yang disadari. Disatu masa aku merasakan saat-saat dimana semuanya adalah tentang kita, kemudian kepercayaan ini mengalir keluar dengan sepenuhnya keyakinan. Dan saat itu pula semuanya menjadi gelap, waktu yang tak bisa kembali. Masih saja aku ingin kau tetap disini, berharap tiba-tiba kau hadir seperti bayangan. Memecah keheningan, menjadi sandaran dalam kesendirian. Hanya fikiran dan khayalan, sedangkan logikaku mengatakan ini memang saat yang tepat untuk mengucapkan ‘selamat tinggal’. Kemudian terlupakan hanya karena aku tau, hadirku tak mengadirkan jejak dalam perjalananmu.
Aku adalah seorang gila yang menjadi semakin mencintai kegilaan ini. Membiarkan engkau terus menjadi hantu dalam setiap kehadiran malam sunyi. Dan aku adalah pangeran dari kebodohan. Ada tawa kita disana, tangisanku pun tertinggal di satu sisinya. Hanya mencoba kembali memutar waktu melalui kenangan hari-hari lalu.
Menangislah, menangislah dalam keharuan. Menjadilah lemah dan kemudian hancur, ini adalah sebenar-benarnya kekalahan yang mutlak. Jika ini sebuah kehilangan maka pasti pernah engkau miliki, dan itu adalah tidak. Ini hanya hari biasa dan seperti biasanya, semuanya sama dan hanya seperti ini seharusnya. Mungkin hanya sedikit basah di ujung mata sana. Tidak! ini sebenar-benarnya kepedihan hingga tak lagi mampu berfikir tentang sebuah tangisan.
Beberapa teman pernah mengatakan bahwa aku menempatkan ini terlalu di atas, dan semua itu terbukti benar, aku tak mampu untuk mencapainya. Hanya terus memandang ke atas dan berharap engkau dengan rendah hati turun menghampiriku. Sadarkah aku? Sepenuhnya aku sadar bahwa ini adalah ke-mustahilan. Menjadi pengikut setia mu, selalu berada tepat di belakangmu dalam setiap hal. Hanya berharap engkau memalingkan pandanganmu dan menatapku. Kegilaankah? Dan aku akan menyangkal. Melakukan pembenaran dan mengatakan, ‘ini hanyalah kesungguhan yang berlebih’. Menjadilah diam dan sunyi, menjadilah tak beraturan dan berantakan. Bernyanyilah dengan nada sumbang dan aku akan terus mendengarkannya seolah itu adalah karya agung sang maestro.
Melepaskan semuanya dan kemudian pergi, hanya berharap semuanya berakhir. Dan ini bukanlah mimpi dan film. Ini adalah realita dengan sepenuh-penuhnya logika dan pukulan telak kepadaku. Masihkah aku harus menutup mata dan menjadi tuli? Membiarkan semuanya berjalan dengan cepat sementara aku hanya mempunyai kendaraan tua yang tak mampu lebih dari 20 km/jam? Sedangkan ilusi sebenarnya adalah tentang pengorbanan yang aku lakukan, tentang setiap yang aku lakukan untukmu adalah sesuatu yang tak pernah terjadi.
Menyanyilah tentang kesedihan, menarilah dengan nada keperihan, berteriaklah, memaki dan berlari. Jika memang ini adalah tentang kita maka tak akan hanya aku yang sakit. Jika ini tentang kita maka tak akan pernah mampu dicerna dalam penjabaran filsafat maupun ocehan-ocehan birokrat. Hanya percampuran antara persenyawaan kesedihan dan molekul kebahagiaan yang tak pernah mungkin mempunyai massa yang seimbang dan menjadi sebuah materi yang riil.
Hentikan aku, karena aku adalah seorang gila yang terus menguntit kehidupanmu. Matikan aku dan masukkan ke dalam keranjang sampah. Dan aku tetap tak pernah bisa berubah. Aku adalah semua keburukan dan ke-payahan yang penuh dengan keyakinan akan ketidak mungkinan. Jika ini adalah keseluruhan dari cinta maka aku siap hanyut bersamanya. Tak mungkin lampu itu tak akan padam suatu hari, sedangkan mataharipun tenggelam saat senja. Jika ini adalah kisah, maka akulah yang akan menentukan ‘ending’ ceritanya. Tak perlu selamatkan aku, ini kisahku, ini adalah diriku dan aku adalah pemeran utamanya.
Dan tentang sebuah pelajaran yang tak mampu aku mengikutinya. Bersama dengan menghilangnya bayangmu dalam sinar mentari yang lain. Aku lelah dan aku telah kalah, aku adalah hanya kemampuan untuk terus berjalan karena masih menginjakkan kaki di bumi. Kepedihan dan kekosongan adalah sebuah iringan yang indah menuju jalan kedamaian. Menariku adalah tarianmu, menyanyiku adalah lagumu dan aku akan selamanya tertahan disini dengan semua kisah tentang dirimu dan itu, hanya itulah aku. Mengatakan semuanya untuk orang lain, tangisku, tawaku. Dan sepenuhnya harus dimengerti semua hal ini hanyalah tentang diriku bukan kamu.
Best thank’s
Tidak ada komentar:
Posting Komentar